AWAN HITAM

         Seiring bertambahnya, hari, bulan, dan tahun, ruang hampa yang ada di dalam hatiku semakin gelap. Aku selalu bertanya-tanya, apakah di luar sana ada orang yang sama denganku? Sama-sama memiliki ruang hampa di dalam hatinya yang paling dasar dan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Selain ruang hampa yang ada di dalam hatiku, kini aku bisa melihat awan hitam yang terus menurunkan air seperti hujan di atas kepalaku. Kemana pun aku pergi, awan itu selalu mengikuti. Aku merasa lelah dan putus asa dengan semuanya hingga benar-benar ingin mengakhiri hidupku. Apakah kalian ingin tahu darimana awan itu berasal? Ya, itu berasal dari perasaanku yang bercampur menjadi satu. Perasaan sedih, kecewa, marah, putus asa, perasaan bersalah, dan lainnya. 

        Saat itu, seiring bergantinya tahun dimana aku duduk di bangku kelas satu SMP, umpatan dan cacian bahkan kekerasan yang diberikan oleh keluargaku semakin bertambah. Mereka terus-terusan melakukkan itu hingga aku tidak  bisa  melawan. Aku hanya bisa diam dan menangis tanpa suara, aku takut jika melawan akan menambah dosaku. Bukankah dosa jika kita melawan orang tua? Maka dari itu, aku memilih diam dan menerima  semuanya. Mereka  munafik! Di depan nenekku mereka memperlakukan ku dengan baik, namun ketika nenekku tidak ada di rumah, mereka langsung memarahiku dan adikku karena satu kesalahan kecil. Sungguh aku benar-benar tidak tahan, tapi mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa pasrah. Setiap paman marah, ia selalu mengucapkan "Kamu itu hanya anak narapidana, jadi tidak usah belagu!". Jujur saja, saat itu dalam hatiku yang paling dalam sangat ingin membunuhnya, namun tidak akan aku lakukkan. Maka dari itu aku melakukkan self harm. Aku merasakan sensasi baru, sensasi saat aku menyayat lenganku dengan gunting. Saat melakukannya pun, aku sama sekali tidak merasa sakit meskipun tanganku mengeluarkan darah. Anehnya, setelah melakukan hal tersebut aku merasa lega dan beban yang ku rasakan sedikit menghilang. Perasaan itulah yang membuatku ketagihan hingga saat ini untuk melakukkan sel harm

     Ketika aku naik ke kelas dua SMP, ibu kembali ke rumah setelah satu setengah tahun meniggalkan kami. Ia kembali bersama seorang pria yang akan menjadi ayah tiriku. Pria itu berbadan besar dan tinggi, ia memiliki pekerjaan  sebagai supir bus. Saat ibu kembali, ia sama sekali tidak ada perasaan bersalah kepada kami, inilah yang membuatku merasa kecewa. Tidak hanya itu, ternyata saat ibu pulang ke rumah ia sedang dalam keadaan hamil sekitar empat bulan. Aku semakin kecewa dan rasanya seperti jatuh ke dalam jurang yang dalam nan gelap. Kemudian setelah beberapa hari, akhirnya ibu dan pria itu menikah di KUA. Lima bulan kemudian,  ibuku melahirkan anak perempuan yang akan menjadi adik tiriku. 

    Setelah melahirkan, ibuku mulai mengontrak bersama ayah dan  adik tiriku, terkadang juga aku dan adik perempuanku datang untuk menjenguk mereka. Jujur saja, aku tidak akrab dengan ayah tiriku. Entah mengapa aku bisa merasakan bahwa  ia  bukan pria yang baik. Ternyata dugaanku benar, ia pria yang kasar. Ia selalu melakukan KDRT kepada ibuku. Setiap kami datang, wajah ibuku selalu ada bekas pukulan atau lebam. Terlepas dari rasa kecewaku terhadap ibuku, aku juga merasa sakit yang luar biasa ketika melihat ibuku mendapat perlakuan seperti itu. Pernah juga aku melihat mereka bertengkar sangat hebat, keduanya sama-sama tidak mau mengalah dan yang membuatku terkejut, ayah tiriku hampir membanting anaknya sendiri yang saat itu masih berusia sekitar enam bulan. Ini sangat gila,  benar-benar gila! Setelah kejadian itu, ayah tiriku tidak lagi pulang hingga berbulan-bulan. Kejadian inilah yang membuat ibuku berhutang kesana kemari demi membeli makan untuk adikku. 

     Setelah beberapa tahun mengontrak, akhirnya kami kembali ke rumah. Ya, kami punya rumah. Hanya saja saat ibu pergi, rumah itu dikontrak oleh orang lain. Kami memulai hidup baru dan tinggal sebagaimana layaknya keluarga, disaat itu juga ayah tiriku sudah kembali ke rumah dan hidup bersama. Ibuku juga sedang mengandung adik laki-laki, jadi aku  memiliki dua adik kandung dan dua adik tiri. Aku benar-benar berharap, untuk kali ini keluargaku tidak ada pertengkaran lagi. Sekali lagi, ternyata semua di luar kendaliku, mereka bertengkar lagi. Untuk kali ini mereka lebih sering bertengkar bahkan hampir setiap hari, aku yang mendengar dan melihatnya sangat jenuh. 

    Suatu ketika beberapa bulan setelah kelahiran adik laki-lakiku, Ibu dan ayah tiriku berpamitan pergi ke suatu tempat, ia tidak memberi tahu dimana tempat pastinya. Mereka membawa kedua adik tiriku dan membawa ponselku yang diberikan oleh kakakku. Itu adalah satu-satunya ponsel yang ku punya untuk menghubungi kakak dan teman-temanku. Ibuku berpamitan dan berjanji akan pulang di keesokan harinya. Seperti yang kuduga, ia tak pulang. Setiap aku mendengar pintu pagar dibuka, aku langsung berlari untuk mengecek ibuku, namun  ternyata hanya seorang pengangkat sampah.  Ketika sore hingga  malam tiba pun aku masih menunggu ibuku pulang. Jika kalian bertanya bagaimana aku makan, aku hanya makan mie instan  atau terkadang makan nasi dan lauk yang dikirim oleh nenekku.

     Setelah tiga hari, akhirnya mereka kembali. Saat itu sudah tidak ada lagi perasaan senang,  yang ada hanya perasaan hampa di dalam hatiku.  Aku semakin kesal ketika ibuku berkata bahwa ia menjual  ponselku, padahal aku sangat membuthkan ponsel itu. Bukannya meminta maaf, ia malah memukul dan memarahiku untuk diam. Saat itu, aku langsung mengurung diri di kamar. Ku kira dengan kami hidup bersama layaknya keluarga, awan hitam dan ruang hampa yang gelap itu akan hilang. Ternyata tidak! Keduanya masih terus mengikutiku, bahkan ruang hampa itu semakin terasa sempit dan pengap hingga aku sulit bernafas. Aku bahkan sampai bingung, bagaimana cara membuat mereka menghilang. 



"Manusia ingin percaya bahwa mereka hidup dan bertindak berdasarkan kemauan mereka sendiri, namun pada kenyataannya mereka hanya dipaksa oleh keadaan"

-Eiji Yoshikawa



    


Komentar