PENGABAIAN DAN PENOLAKAN


     Banyak orang berkata bahwa " Harta yang paling berharga adalah keluarga ". Akan tetapi, ungkapan itu tak ada arti khusus bagiku. Aku masih bingung dengan konsep keluarga yang sebenarnya, begitu pula dengan konsep kasih sayang. Aku selalu bertanya-tanya bahkan aku mampu menghabiskan waktu dengan tatapan yang kosong demi mencari arti dari kasih sayang. Terkadang, aku menghabiskan waktu sambil mendengarkan lagu sedih, aku masih terjebak oleh masa lalu yang suram dan selalu diabaikan oleh orang-orang disekitarku. 

    Kala itu aku berusia 5 tahun, kehidupan yang aku dapatkan benar-benar menyenangkan. Kasih sayang yang diberikan oleh sang ayah sangatlah banyak, mulai dari bermain petak umpat bersama  adik perempuanku, hingga melukis bersama di halaman rumah. Akan tetapi, hal itu ternyata hancur seketika saat aku mendapat kabar bahwa ayahku meninggal dunia. Hancur sudah perasaanku, benar benar hancur. Bagaimana bisa? Padahal baru saja ayahku mengantar aku dan adikku ke sekolah dengan mobil. Semua kenangan yang aku rasakan bersama ayah tiba-tiba hancur bagaikan sebuah puzzle yang sulit untuk disusun kembali. Ayah meninggalkan kami berdua dan sang adik laki-lakiku yang masih di dalam kandungan.  

   Setelah ayah meninggal, aku dan adikku hanya hidup bersama dengan ibu. Semuanya sungguh berbanding terbalik, kami lebih sering dimarahi bahkan dipukul jika  kami bertengkar atau melawan perkataan ibuku. Kami tinggal dengan omelan tiap harinya  hingga kelahiran adik laki-laki. Beberapa hari kemudian, kami ditinggal oleh ibu yang pergi bersama adik laki-lakiku entah kemana. Ibuku berjanji bahwa ia akan kembali lusa, akan tetapi ia berbohong. Ia sama sekali tak kembali hingga beberapa tahun, tak tahukah ia bahwa kami berdua menunggu kedatangannya setiap hari di teras rumah hingga lembayung datang menyambut?. Sejak saat itu, kami tak lagi  mengharapkan kedatangan ibu. 

    Mendengar hal itu, aku dan adikku dijemput oleh kakakku. Kami  memiliki 4 orang kakak, namun dari ibu yang berbeda. Kami mulai tinggal di rumah sang kakak dan mendapat banyak perhatian. Keberadaan sang kakak mulai membuat kami nyaman dan merasakan arti dari sebuah keluarga. Akan tetapi, kenyamanan itu hilang setelah ibu datang untuk menjemput kami dan dibawa pergi untuk tinggal di rumah nenek. Sejujurnya, kami sangat tidak nyaman tinggal di rumah nenek. Setelah beberapa bulan kami tinggal disana, ibu kembali pergi entah kemana bahkan tanpa pamit. Kami ditinggal bersama dengan adik laki-lakiku yang saat itu masih berusia 2 tahun, Setelah 6 bulan kepergiannnya, ia baru memberikan kabar bahwa saat ini ia sedang bekerja di Malaysia dan akan pulang sekitar dua tahun lagi.   

    Setelah dua tahun, ibu benar-benar pulang dan mulai merawat kami dengan baik. Kami mulai bisa merasakan kehadiran seorang ibu, dan merasakan kenyamanan kembali. Akan tetapi, belum genap satu  tahun ibu pergi lagi entah kemana. Kami bertiga ditinggal untuk kedua kalinya, di rumah nenek ternyata kami diperlakukan kurang baik oleh keluarga ibuku. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa kami  tidak seharusnya disini. Perkataan itu terus saja keluar dari mulut mereka, bahkan aku pun jenuh mendengarnya. Selain dicaci maki, adik perempuanku juga terkadang dipukul di bagian kepala belakang. Jika aku mengingat hal itu benar-benar sangat menyakitkan, aku pun merasa bersalah kala itu karena tidak bisa menolong adikku. Aku sangat ingin menolong, tapi apa daya? Kami bertiga sama-sama tidak  berdaya. 

      Kejadian itu terus berulang sampai batas  dimana aku  tidak bisa berpikiran jernih, saat itu  aku masih kelas 4 SD namun aku berpikir untuk meninggalkan rumah nenekku. Aku pergi entah  kemana  bersama adik-adikku, kami  bahkan bergantian menggendong adik laki-laki kami agar ia tidak lelah berjalan jauh. Kami benar-benar pergi sampai dimana kaki  kami merasa lelah. Sembari  berjalan, aku berpikir untuk menyuruh adik-adikku pulang saja ke rumah nenek. Ya, mereka akhirnya pulang dan hanya aku saja  yang berjalan entah kemana. Sampai dimana kakiku terasa lelah hingga mau lepas, aku duduk di salah satu masjid untuk beristirahat selama beberapa jam sambil merenungi nasibku dan menahan rasa lapar. 

   Dikala aku sedang merenung, tiba-tiba seorang satpam datang menghampiriku dan bertanya mengapa aku duduk disitu. Ia terlihat sangat baik dan ramah, bahkan aku disuruh untuk duduk di pos satpam sambil diajak bercerita. Tak hanya itu, dia  bahkan membelikanku nasi goreng dan kita makan bersama. Setelah makan, ia menghubungi salah satu stasiun radio untuk menginformasikan keberadaanku. Keesokan harinya, kakakku datang untuk menjemputku dan membawaku pulang ke rumahnya, tak lupa juga aku mengucapkan terima kasih kepada satpam itu.

   Setelah sampai di rumah, aku dimarahi habis-habisan oleh kakakku. Namun, aku  bisa lihat dari sorot matanya  bahwa ia marah karena khawatir dengan keadaanku. Ya, aku bisa melihat keadaan seseorang dari sorot matanya. Maka dari itu aku tidak menangis, karena kakakku benar-benar peduli dan sayang kepadaku. Beberapa hari kemudian, paman atau adik dari ibuku datang menjemputku untuk pulang  ke  rumah nenek. Jujur saja, saat itu mulai  muncul rasa cemas dan takut akan suatu hal. Aku takut dihakimi dan dimarahi. Bisa  aku lihat dari sorot mata pamanku bahwa saat ini ia  benar-benar marah karena aku dianggap merepotkan.  Sesampainya di rumah nenek, dugaanku benar. Aku benar-benar dimarahi dan dihakimi oleh mereka, kecuali nenekku. Nenekku adalah orang yang penyayang, bahkan saat anaknya membentak pun ia sama sekali tidak balas membentak. 

     Saat aku dimarahi, adik-adikku hanya melihatku dari jauh dan dapat kulihat dari sorot mata mereka bahwa mereka sangat  khawatir padaku. Di saat aku ditanya kemana aku pergi, aku hanya bisa diam saja sampai pamanku memukul kepalaku pun aku masih tetap tidak mau menjawab. Selepas itu beberapa keluaga ibuku menganggap bahwa aku merepotkan, dan disininlah aku merasa ada penolakan dari keluarga ibuku. Belum lama dari itu, ada sebuah surat dari kepolisian yang menyatakan bahwa ibuku ditahan atas tuduhan penipuan. Aku benar-benar kecewa dan  sakit hati, karena surat itu datang tepat satu hari sebelum ulang tahunku. Itu menjadi sebuah kejutan yang tak terduga. 

      Sejak saat itu, aku mulai dibully oleh teman-teman SD ku. Aku dipermalukan di depan umum, bahkan dipermalukan juga  di  tempat lesku. Saat itu guru lesku bertanya dimana ibuku, lalu salah satu teman sekelasku menjawab "Ibunya di balik jeruji besi bu!". Bersamaan dengan itu, aku hampir menangis namun ku tahan. Hari demi hari bullyan yang ku terima  tidak wajar, aku pernah di dorong hingga jatuh saat sedang berbaris untuk masuk ke kelas, aku pernah  dilempar penghapus yang penuh dengan  kapur, bahkan pernah saat itu  aku segaja keluar kelas saat jam makan siang untuk duduk di bangku depan kelas.  Ternyata selama aku tidak ada, mereka semua membicrakanku dan menjadikanku sebagai  bahan lelucon untuk mereka. Aku benar-benar kecewa, bahkan di dalam kelas pun ada seorang guru yang seharusnya menegur ternyata tidak menegur mereka. Mulai sejak itu aku tidak pernah mau percaya ke siapapun termasuk teman dekatku lagi, saat itu aku merasa kecewa dan merasa ada penolakan dari mereka. 

            Aku melaporkan kejadian itu kepada keluargaku, namun bukan dukungan atau kalimat penenang yang bisa ku terima. Apakah kalian bisa menebak  apa yang mereka katakan? Ya, mereka mengatakan "Temanmu hanya bercanda, jangan dimasukkan ke hati". Aku benar-benar ingin menangis saat itu, namun aku berusaha keras  untuk biasa  saja dan menjalani kehidupan sekolah dasar yang benar-benar menyedihkan. Sejak saat itu aku merasa terabaikan, mereka berpikir bahwa kasih sayang yang mereka berikan hanyalah sekedarr memberi  makan, memberi tempat tinggal, dan memberi  uang saku. 

 


Komentar