PENGANTAR

   Bisikan di kepalaku terus berbicara, seolah memberi perintah yang tak sesuai dengan kata hatiku. Aku merasa tenggelam bersama pikiranku yang menurut orang sangat mengerikan, namun bagiku itu adalah hal yang biasa saja. Aku terus memikirkan bagaimana cara bunuh diri, mulai dari pikiran untuk gantung diri hingga lompat dari peron pada saat kereta akan melintas. Akan tetapi, jika aku melakukan hal tersebut, bagaimana dengan ke-empat adikku? mereka pasti akan menangis meraung-raung, depresi atau bahkan  akan berakhir sepertiku juga.

    Luka batin yang mereka berikan padaku sangat dalam, terus muncul dan terrekam di dalam pikiranku seperti pita kaset yang kusut. Aku masih belum bisa memaafkan mereka yang membuatku berada di situasi seperti ini, terkadang pikiran untuk membunuh mereka semua pun pernah ku pikirkan. Mulai dari memberikan racun tikus, sianida atau membunuh mereka semua secara brutal.  Hal ini ingin aku lakukan untuk meredakan luka batinku serta memberikan rasa puas untuk diriku sendiri, namun disisi lain aku takut menjadi seorang kriminal. Jika aku menjadi seorang kriminal, bagaimana dengan nasib ke-empat adikku? Mereka pasti akan malu jika memiliki kakak seorang kriminal dan akan mengikuti jejakku juga. 

    Jika aku diberikan pilihan diantara bunuh diri atau membunuh mereka yang sudah membuatku seperti ini, maka aku tidak akan memilih keduanya. Aku akan menambah opsi lain yaitu melakukkan self harm, karena dengan ini aku masih bisa bertahan hidup dan tidak membuat adik-adikku sedih. Self harm sebuah kalimat yang menurut orang lain sangat mengerikan atau tindakan bodoh dan gila, namun anehnya bagiku kalimat itu biasa saja dan sudah menjadi makanan sehari-hari. Hingga saat ini pun aku masih sering melakukkan hal itu tanpa sepengetahuan kelurgaku, namun setelahnya aku merasakan perasaan lega dan puas sehingga bisa tidur dengan nyenyak tanpa beban pikiran. 

        Aku mulai melakukan self harm ketika usia 12 tahun, saat itu aku banyak diberikan kalimat-kalimat yang bagi mereka biasa saja, namun bagiku itu sangat menyakitkan. Mengapa aku bisa berpikir melakukan hal  tersebut? Mari kita lanjutkan cerita ini di bab berikutnya. 


Komentar