RUANG HAMPA

     Aku memasuki ruangan hampa yang terbentang di depan mataku,  saat itu yang ku dengar hanyalah suara udara dari ruangan kosong. Tak  ada kehidupan, dan juga aktifitas lainnya.  Sebuah ruangan yang benar-benar gelap tanpa cahaya, hanya ada jurang keputusasaan serta aura kesedihan mendalam yang memenuhi ruangan itu.  Semuanya tak ada artinya bagiku. Aku merasakan kehampaan yang mendalam, bahkan di keramaian aku pun masih tetap terjebak di ruangan itu. Seketika untuk bernafas pun rasanya  sangat berat, seperti ada sebuah batu yang mengganjal dan butuh usaha keras menghembuskan nafas. 

    Sungguh, luka dan ruangan hampa yang mereka  berikan benar-benar luar biasa. Bahkan aku sampai memikirkan suatu  hal yang tidak seharusnya kulakukan, namun tetap ku lakukkan. Ya, kala itu aku mulai melakukan self harm dengan cara meninju kaca jendela dengan tanganku hingga mengeluarkan darah, namun anehnya aku tidak menangis saat itu. Hingga saat ini luka itu masih membekas di  bagian punggung tanganku, kala itu aku masih berusia 11 tahun. Pasti kalian bertanya-tanya mengapa aku bisa berpikir melakukan hal tersebut kan? Ya, saat itu aku sedang dalam situasi marah bercampur kesal dengan candaan ibu dan kakak sepupuku. Mereka  bilang itu hanya candaan, tapi bagiku tidak! Candaan itu sangat meyakitkan dan membuatku merasa kesal dan tak berguna, jadi aku meluapkan emosiku dengan cara meninju kaca jendela. Oh ya, saat itu ibuku baru beberapa bulan bebas dari penjara dan kami tinggal bersama di rumah nenek. 

    Setelah kejadian itu, ibu bahkan saudaraku yang lain tidak berani melontarkan candaan yang menyakiti hati. Jujur saja, aku merasa tenang dan damai meskipun ruangan hampa itu masih ada di alam bawah sadarku. Selang beberapa bulan, ibuku kembali meninggalkan kami bertiga di rumah nenek, yang kami tahu ia berpamitan untuk bekerja di luar negeri. Baiklah, saat  itu ku doakan yang terbaik untuk ibuku di luar sana.  Beberapa bulan setelah ibuku pergi, kami  mendapatkan surat lagi dari kepolisian yang menyatakan bahwa ibuku kembali di penjara untuk kedua kalinya atas tuduhan pencurian. Setelah ditelusuri, ternyata yang melaporkan adalah kakak dari ibuku. Kala itu ruangan hampa yang ada di alam bawah sadarku semakin bertambah gelap. 

   Aku kembali mendapatkan bullyan di sekolah, mereka mengejekku bahwa aku anak narapidana. meskipun itu sebuah kalimat  biasa, namun bagiku tidak! Hatiku terasa sangat sakit. Bahkan kala itu aku sama sekali tidak bisa meneteskan air mata, karena yang mereka katakan benar  adanya. Semua berawal dari anak tetanggaku, ia menyebarluaskan berita itu ke teman kelasku. Ya, kami belajar di kelas yang sama. Bahkan hingga saat ini aku masih ingat kalimat yang mereka lontarkan dan siapa yang mengatakan kalimat itu. Aku tidak akan pernah mau melupakannya!!

    Setahun setelah ibu dibebaskan, kami kembali tinggal bersama. Anehnya aku sama sekali tidak merasa bahagia, yang ada aku semakin murung dan tenggelam ke dalam pikiranku sendiri  atau terkadang membuat imajinasiku sendiri. Suatu ketika ibuku mengajak kami pergi untuk menginap di  hotel, tentu saja  kami merasa senang dan membayangkan bagaimana rasanya mandi dengan air hangat dan tidur di ruangan ber-AC. Sekali lagi ternyata semuanya di luar dugaan, ibuku kembali pergi bersama adik  laki-lakiku dan kami berdua ditinggal di hotel. Ia berpamitan untuk pergi ke suatu tempat dan berjanji akan pulang di sore hari, namun hingga dua hari ke depan ibu tak kunjung datang. Ya, kami ditinggalkan lagi dan menjadi sandera oleh pihak hotel. Adik perempuanku terus menangis, aku pun juga bingung bagaimana cara menenangkannya. Aku terus mengutuk diriku sendiri, menyalahkan diriku sendiri yang tidak bisa menenangkan adikku sebagai anak pertama. Pihak hotel pun juga bingung, karena adikku terus-terusan menangis akhirnya  kami diantar pulang ke rumah nenek dan mereka menceritakan semuanya kejadiannya kepada  nenekku.  

    Kami kembali ke rumah nenek, namun bukan sambutan hangat yang kami dapatkan melainkan kalimat "Kalian ga seharusnya  dirawat oleh nenekmu", "Kalian merepotkan!" atau "Kalian ga seharusnya tinggal disini, harusnya kamu di rumah kakakkmu karna kalian satu bapak". Kalimat-kalimat itu terus mendoktrin pikiranku hingga saat ini. Bahkan paman pun mengatakan "Kamu hanyalah anak narapidana, jadi kamu gak usah bergaya disini". Jujur saja kalimat-kalimat itu masih melekat di hati dan di pikiranku saat ini. Aku benar-benar lelah saat itu, dan selalu menangis tanpa suara di malam hari ketika semua orang sudah tertidur. Tak hanya itu,  bahkan diusia sekolah dasar pun aku sudah memikirkan bagaimana cara bunuh diri yang tidak menyakitkan. Akan tetapi, jika aku melakukan hal tersebut siapa yang menjaga adikku? Akhirnya kuurungkan kembali niatku itu dan lebih memilih self harm sebagai jalan terakhir, karena dengan ini semua emosiku bisa  tertasi dan aku masih bisa bersama adik-adikku. 



“As he thought about his life, he felt both tears and mockery welling up inside him. All that lay before him was madness or suicide. He walked down the darkening street alone, determined now to wait for the destiny that would come to annihilate him.”

― Ryūnosuke Akutagawa, The Life of a Stupid Man

    



Komentar